web builder


Sejak beberapa dekade, berbagai percobaan untuk menerangkan asal-usul kata ‘pinisi’ itu diutarakan: Ada yang mengklaim bahwa istilah itu berasal dari penamaan kota Venesia, salah satu pelabuhan historis Italia, dari mana mungkin berasal jenis layar itu, atau yang jadi dikunjungi pelaut Bira pada zaman terdahulu; ada yang menyebutkan bahwa salah seorang raja Tallo awal abad ke-17 menamakan perahunya ‘pinisi’; ada pun yang berpendapat bahwa perahu pinisi sudah dipakai oleh para pahlawan Epos La Galigo guna mencari jodoh dan takdir (akan ini dan berbagai versi lainnya lht., msl., 1, 2, 3, 4).  Tak satu dari anggapan itu dapat dibuktikan – kata ‘pinisi’ sama sekali tidak terdapat dalam naskah Makassar, Bugis atau Mandar yang dikarang sebelum abad ke-20; layar tipe sekunar tidak diciptakan di Venesia, dan tak pernah ada perahu Sulawesi yang bersandar di pelabuhannya; ia pun tidak tercatat dalam berbagai rekaman dan arsip Kompeni Hindia Timur Belanda yang mendahului pemerintahan kolonial.


Salah satu versi terbaru terdapat di, misalnya, sini: Konon, pernah ada seseorang yang bernama Pinisi yang ketika lewat di Tanjung Bira “menegur salah seorang nahkoda kapal [di situ] bahwasanya layar yang digunakannya masih perlu diperbaiki.  Sejak saat itu orang Bira berfikir dan mendesain layar sedemikian rupa dan akhirnya berbentuk layar Pinisi yang seperti sekarang ini.  Atas teguran orang tersebut maka orang-orang Bira memberi layar itu dengan nama Pinisi.” 

Sayangnya, tak satu pun dari sekian banyak sebutan kisah ini menjelaskan sumbernya. 

Satu kisah lainnya yang memang berdasar sebuah sumber yang jelas terdapat di sini dan sini (lht. tulisan oleh Rohani Longuet):

Pada awal abad ke-19, tinggallah seorang Perancis di Kuala Terengganu di Malaya, di mana ia menikahi seorang gadis setempat dan bekerja sebagai tukang perahu. Pada suatu hari Raja Terengganu kala itu, Sultan Baginda Omar, meminta si bule membantu buat sebuah perahu yang menyerupai perahu barat yang paling modern, sehingga dibangun suatu kapal sekunar yang dijadikan perahu kerajaan.  Perahu itu serta seseorang Perancis yang bernama Martin Perrot memang dilihat dan ditemui oleh seorang nakhoda Inggris saat mengunjungi Kuala Terengganu pada tahun 1846.  Menurut tradisi para pelaut Melayu, perahu itulah yang dijadikan contoh untuk membangun perahu-perahu sejenisnya yang dinamakan pinas atau (maaf) penis.  Istilah baru itu konon meniru kata pinasse, yang dalam bahasa Perancis dan Jerman pada zaman itu menandai sejenis kapal layar berukuran sedang. 

Sebuah perahu dengan layar sekunar dan sebuah padewakang di Pelabuhan Makassar, 1920-an; Koleksi Wereldculturen TM-10010383

Memang, pinas Terengganu itu muncul bersamaan dengan tipe perahu penisch – akan tetapi, ia bukanlah percobaan satu-satunya pengrajin perahu dan pelaut Nusantara untuk mengadopsi teknologi berlayar ‘Barat’: Sudah pada abad ke-18 ada ‘perahu’ tipe chialoup dan toop yang dengan jelas dirancang dengan mengikuti teladan Eropa.  Pembangunan kapal –atau perahu?– yang serupa bukan hanya terjadi di pusat-pusat kekuasaan kolonial: Seperti Raja Terengganu, “beberapa tahun sebelum” 1850 Sultan Ternate pun “meminta dibuatkan sebuah brig dan dua sekunar kecil” di Pulau Taliabu dan Mangoli; dan, ya, pada tahun 1876 administrasi Hindia-Belanda mulai mencatat sebuah perahu “schoenerbrik” asal “Wadjo (Celebes)”.  Yang mungkin paling cepat menggunakan layar tipe sekunar ialah para perompak: Di antara suatu armada bajak laut asal Lingga dan Galang, Riau, yang sempat dihalang oleh penjaga pantai Singapura pada tahun 1836 terdapat sebuah perahu “bertali-temali sebagai sekunar”, dan pada waktu dan tempat yang hampir sama dilaporkan adanya suatu armada perompak lain yang terdiri dari “sebelas perahu, dua di antaranya berjenis sekunar”.


Ya – katanya, kini pinisi itu dijadikan Warisan Dunia Takbenda; jadi, mencari asal-usulnya memang menjadi salah satu pekerjaan rumah nan sangat penting dalam program riset ini.  Akan tetapi, bila Anda simak formulir lamaran yang pada tahun 2015 dikirim ke UNESCO maka sudah jelas: Yang dijadikan pusaka dunia itu pengetahuan pembuatan perahu, apa pun jenisnya, dan tradisi melayarkannya – artinya, bukan hanya sri pinisi itu saja.  Sudah jelas pula bahwa perahu kebanggaan orang Sulawesi ini tidak mungkin ada tanpa suatu proses perkembangan tradisi pembuatan perahu yang panjang; akan tetapi, kita belum tahu dengan pasti kapan perahu pinas dan penisch asal kawasan barat Nusantara membuahkan perahu palari Sulawesi, dan kapan perahu-perahu palari itu mulai disebut dengan 'pinisi'.

Anda ingin membantu cari jawabannya? Hubungi Kami!