Pelabuhan Perahu Makassar, sekitar 1920; foto koleksi KITLV 32691
Mobirise
Foto oleh G. Ingleton, 1932

... secara harafiah menandai sebuah kombinasi tujuh sampai delapan helai layar serta dua tiang yang serupa dengan yang dalam peristilahan pelayaran internasional dinamakan gaff-(atau, lebih jarang, schooner-)ketch – ‘schooner’ (atau, dalam Bahasa Indonesia, ‘sekunar’) dan 'gaff', karena kedua layar utamanya berbentuk trapesium bersudut tegak dan terbentang pada 'gaff', sebatang kayu yang terpasang ke arah buritan pada sekitar tengah tiang; ‘ketch’ –atau ‘kets’– karena bertiang dua, dengan tiang haluan yang lebih tinggi daripada yang di buritan.
Artinya, kata 'pinisi' itu hanya nama setipe layar dan tali-temalinya, dan tidak ada hubungan apa pun dengan lambung perahu yang dipasangi jenis layar itu.

Vuuren, L. Van 1917. 'De Prauwvaart van Celebes'. Koloniale Studien, 1,107-116; 2, 329-339; hlm. 108.

Sebutan tertulis kata 'pinisi' tertua yang dengan jelas menunjukkan sejenis perahu layar asal Sulawesi terdapat pada sepucuk artikel dalam majalah Koloniale Studiën tahun 1917 : "... sebuah sekunar kecil dengan tali-temali berteladan Eropa".  Sebagai penggerak kendaraan laut Nusantara, layar tipe kets-sekunar itu memang baru terekam pada pertengahan abad ke-19; dan baru pada awal abad ke-20 makin banyak perahu asal Sulawesi mulai dilengkapi dengannya.

Bagaimana pun, tulisan tahun 1917 itu menyebutkan pula berbagai tipe perahu lain – dan deskripsi dan representasi sekian banyak di antaranya sudah terdapat dalam catatan administrasi kolonial atau berita penjelajah asing, di atas peta historis buatan Eropa atau pada candi dan naskah Nusantara.  Jelas, pelayaran dan pembuatan perahu sejak beribu tahun merupakan suatu bagian integral dalam kehidupan masyarakat bahari Indonesia, dan layar tipe pinisi itu tak lebih daripada salah satu bentuk penerapan pengetahun amat luas yang terakumulasi karenanya.  Kemahiran para pengrajin perahu dan pelaut dalam mengamalkan dan mengaktualisasikan kekayaan pengetahuan itulah dijadikan Warisan Dunia Takbenda.  
Anda ingin tahu lebih banyak?


Dengan mengambil contoh kawasan Tana Beru - Bira - Ara, tempat asal pengrajin perahu dan pelaut terkenal Sulawesi, laman ini bertujuan menggambarkan tradisi kemaritiman Nusantara serta menguraikan tantangan dan rintangan yang dihadapinya pada masa kini – dan mendorong penyelenggaraan sebuah program nyata dan terpadu yang bertujuan untuk merekam, melestarikan dan makin mengembangkan warisan leluhur kita ini.

Sejak pada abad ke-17 terdapat laporan pertama tentangnya, daerah di penghujung tenggara jazirah Sulawesi Selatan ini dikenali sebagai tempat asal pelayar dan tukang perahu. Di sinilah tanah kelahiran para panrita lopi, 'maha-ahli pembuat perahu', dan kampung asal pelaut ulung Bira nan legendaris.
Sementara sampai perang dunia kedua kebanyakan perahu dibangun di pantai Lemo-Lemo dan Ara, pada tahun 1950-an para pengrajin perahu berpindah ke Tana Beru, di mana kini terdapat pusat industri pembuatan kapal kayu terbesar Indonesia.

Membangun perahu dan kapal, “artefak paling kompleks yang diproduksi [manusia] secara rutin sebelum masa Revolusi Industri” (1), jelaslah memerlukan penguasaan atas berbagai teknologi yang sama kompleksitasnya; alhasil, sejak ratusan tahun silam para panrita lopi, 'maha-ahli pembuat perahu' asal Lemo-Lemo dan Ara, menciptakan berbagai cetak biru yang bisa digunakan untuk membuat berjenis-jenis perahu.  Selama pengetahuan itu tak terputus dan tertelan zaman, maka mereka terus-menerus dapat menyesuaikannya dengan tantangan yang akan mereka hadapi.

... memang menjadi dasar adanya kawasan yang kini kita kenali sebagai Nusantara: Tak mungkin manusia sempat mendatangi dan mendiami belasan ribu pulau yang terbentang sekeliling katulistiwa ini tanpa pengetahuan akan perahu dan pelayaran. Sudah pada milenium terakhir sebelum Masehi terbentuklah berbagai jaringan perdagangan laut antara pantai utara Laut Cina Selatan, Kepulauan Indonesia dan bagian barat Samudra Pasifik (2, 3, 4); pada milenium pertama Masehi, pelaut Nusantara-lah menjadi penghubung antara Kekaisaran Cina dan Samudra India, dan bahkan berlayar sampai pantai timur Afrika (5, 6, 7); pada pertengahan milenium berikutnya para pendatang baru dari Eropa terkejut terhadap besarnya perahu-perahu yang mereka temui, dan puji kemahiran navigator dan peta-peta laut Nusantara (8, hlm. 17ff; 9).
Sejarah inilah melahirkan para pelaut Bira, pelayar terkenal Nusantara. Orang Biralah awak Pinisi Nusantara ketika berlayar ke Kanada; mereka pun membawa perahu Amanna Gappa ke Madagaskar, atau Hati Marege ke Australia.

Sejak makin banyak perahu layar Nusantara mulai dilengkapi dengan mesin penggerak, pola pelayaran yang mengikuti angin musiman serta tipe-tipe perahu yang dikhususkan untuk menggunakan daya angin sebagai pendorongnya makin ditinggalkan. Pada satu sisi, berbagai tuntutan 'modernisasi' ini menjadi motivasi bagi para pembuat perahu untuk menciptakan pelbagai solusi teknis yang baru, dan mendorong pelaut-saudagar 'tradisional' untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola perdagangan maritim yang baru juga – pada sisi lain, sekian banyak butir pengetahuan dan tatanan sosial yang sejak ratusan yahun silam menjadi dasar tradisi pembuatan perahu dan pelayaran makin terancam, ya bahkan sudah menghilang.

Kini tertinggallah hanya sebelasan panrita lopi, 'maha-ahli pembuat perahu', yang tetap dapat merancang sebuah lambung perahu secara sempurna; dan jumlah pelaut Bira yang masih mampu melayarkan sebuah perahu dagang dengan mengandalkan angin saja dapat dihitung dengan jari satu tangan. Memang sudah waktunya kita merekam
sebanyak mungkin dari pengetahuan yang terancam punah itu!

Suatu tradisi baru bisa berfaedah bila ia dapat menjadi pedoman untuk masa mendatang.  Kini, pembuatan perahu dan pelayaran 'tradisional' Nusantara menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, baik yang bersifat teknis maupun sosial dan ekonomis. Sebagian dari soal ini kemungkinan besar bisa terjawab dengan 'mengaktualisasikan' kekayaan pengetahuan akan konstruksi perahu yang diwariskan sejak ratusan tahun silam; sebagian yang lain akan memerlukan perancangan berbagai teknologi mutakhir yang, dengan jelas, harus dapat disesuaikan dengan dan diterapkan dalam lingkungan riil masyarakat pewaris pengetahuan itu. Dalam rangka program ini direncanakan membangun sebuah perahu 'pinisi baru' yang, secara nyata, dapat menjadi wahana dalam pencaharian jawaban atas tantangan itu.

Bersama dengan Kementerian Koordinator Maritim, LIPI dan beberapa universitas dalam dan luar negeri, Direktorat Jenderal Kebudayaan KemenDikBud RI sedang mengadakan serangkaian workshop dan seminar yang bertujuan merancang sebuah program riset terpadu tentang tradisi pembuatan perahu dan kapal Sulawesi Selatan.  Jelas, juga direncanakan untuk menyediakan bantuan bagi mahasiswa yang ingin ikut dalam program-program itu dan/atau mengadakan skripsi dan tesis tentang tradisi ini.  Kami dalam waktu dekat akan mengumumkan detil-detil programnya di sini.

Mobirise

Ingin tahu lebih banyak?  Hubungi kami!

Photos in Slider: 8-9th century, Borobudur 1.53, Horst Liebner; 1820s, a paduakang, Scheepvaartmuseum, Inv.S.0782(14); ca.1660, detail of a map-view of Somba Opu, Vingbooms and Kerckeringh; Rouffaer, Gerret P. & Ijzerman, Jan W. (eds.) 1915-1929: De Eerste Schipvaart der Nederlanders naar Oost-Indië onder Cornelis de Houtman, 1595-1597, 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff; Collectie Wereldculturen [CW] TM 10010501; Hati 

Marege, a replica of a 19th-century tripang vessel, Horst Liebner; ca. 1910, CW TM 60008232; 1938, CW TM 10010701; 1924 CW TM 10760-45_01; Collins, George E.C. 1992 [1937]: Makassar Sailing, Singapore [London]: Oxford University Press [MacMillan]; 1938, CW TM 10010700; 1988, a replica of a 1960s pinisi, Horst Liebner; 1988, a palari-jengki, Horst Liebner; 1988, a lambo, Horst Liebner.