how to create a web page
Pritchett, R. T. 1899: Pen and Pencil Sketches of Shipping and Craft All Round the World. London, Edward Arnold; hlm.135.

Salah satu sketsa dalam sepucuk buku terbitan 1899 memperlihatkan sebuah "Kendaraan Laut Bersenjata di Teluk Persia" yang menggunakan layar jenis tanja dan kemudi samping, dari terdahulu ciri khas perahu-perahu indigen Nusantara.  Bentuk kamar buritan bak 'kotak terukir' dan papan 'sayap' di sisi atasnya serupa dengan yang disaksikan pada beberapa maket perahu padewakang asal awal abad ke-19 dan dideskripsi dalam tulisan ini.  Benarkah bahwa perahu padewakang bukan hanya berlayar ke seantero Nusantara dan bahkan Australia, tetapi juga pernah berjelajah sampai Laut Arabia?

Untuk mendahului rasa ingin tahu pembaca: Kami belum dapat membuktikannya. Buku itu dikarang Robert Taylor Pritchett, seorang ahli pembuat senapan cum pelukis, berdasarkan, menurut dia, apa yang ia saksikan dan "lukiskan sesuai dengan apa yang dilihat" ketika ia ikut berlanglang-buana di atas kapal-kapal yacht Wanderer dan Sunbeam.  Kami belum dapat memastikan kapan dan apakah memang Pritchett mengunjungi Teluk Persia; yang jelas, pada tahun 1882 dan 1887 ia ikut berlayar melewati Laut Arabia, dan pada kunjungan kedua itu singgah di Karachi, Pakistan, tidak jauh dari muara Teluk Persia.  Bagaimana pun, dalam berbagai narasi atas pelayaran-pelayaran itu kami sampai sekarang belum mendapatkan kisah pertemuan dengan "Bajak Laut Teluk Persia" yang menjadi judul sketsanya.

Robert Taylor Pritchett, oleh D.A. Wehrschmidt

Pada teks keterangan atas sketsa itu Pritchett menyatakan bahwa "perahu itu, biar pun di pantai Teluk Persia, membawa banyak karakter Melayu padanya".  Dalam buku yang sama dan juga pada salah satu narasi pelayaran yang diikutinya terdapat lukisan "perahu-perahu Makassar" yang Pritchett lihat ketika mengunjungi Sulawesi beberapa bulan setelah lawatannya ke Karachi: Ia sepertinya menyadari perbedaan antara perahu asal Nusantara dan dhow Arab dengan layar segi-tiga 'latin'-nya yang dibahas pada halaman-halaman sebelumnya dan yang tergambar di sebelah kiri jauh – maka, bagi Pritchett (dan juga seorang etnografer Belanda yang akan kita temui sebentar!) sudah jelas bahwa, misalnya, "ujung atas tiang berbentuk Melayu".  Ia pun, dengan nada romantis khas era Victorian, terkesan bahwa "bahtera ini pasti tidak memperlihatkan tanda-tanda [bahwa perahu itu] telah menyerah kepada rayuan zaman dan temuan-temuan modern".

Pritchett, R. T. 1899: Pen and Pencil Sketches of Shipping and Craft All Round the World. London, Edward Arnold; hlm. 134
Folkard, H. C. 1901: The Sailing Boat: A Treatise on Sailing Boats and Small Yachts, their Varieties of Type, Sails, Rig, etc. London, Edward Stanford; hlm. 430.

Pada sebuah buku terbitan 1901 akan pelayaran dan tipe-tipe kapal layar oleh seorang penulis lain terdapat pandangan samping perahu itu yang tertanda monogram Pritchett.  Bagi pengarangnya "dapat diobservasi bahwa tipe dhow Arab bisa dijejaki dalam bentuk lambungnya; dan layar dan tali-temalinya dicap bentuk Melayu".  Bagaimana pun, sekian banyak maket dan gambar perahu padewakang asal awal abad ke-19 meniadakan asumsi pertama itu: Lambungnya dengan jelas mengikuti apa yang diketahui tentang perahu-perahu Sulawesi masa itu.

Sebuah perahu pencalang; Musium Etnografi Leiden, # RV-351-2







Musium Etnografi Leiden, # RV-351-23







Sheepvaartmuseum Amsterdam, # S.0782(14)







Adanya kedua gambar ini dijadikan topik suatu diskusi pendek dalam sebuah tulisan oleh C. Nooteboom, seorang etnografer Belanda yang banyak membahas 'Perihal Perkapalan dan Pelajaran di Indonesia'.  Menurut Nooteboom, "bukan hanya pada layar dan kemudi [sampingnya] terdapat pertalian dengan Indonesia, [tetapi] juga pada lambungnya dapat kita kenali dengan jelas persamaan berarti dengan perahu-perahu Celebes Selatan.  Perahu ini pada dasarnya bersifat Makassar [...]; tiang [yang berkaki tiga] sangat serupa dengan yang digunakan pada perahu-perahu dagang Makassar, dengan ujung atasnya yang melengkung" (hlm. 377).  Ia berargumentasi bahwa sisi bawah kedua layar tidak diikat pada bomnya, dan lebih berbentuk "seperti perahu mayang Jawa" – akan tetapi, pada selembar gambar Pritchett lain yang dengan jelas menunjukkan sebuah perahu di pelabuhan Makassar ini bentuk layarnya sama, dan sisi bawahnya juga tidak diikat kepada bom layar: Mungkin inilah yang diingatnya ketika menyiapkan gambar-gambar yang diterbitkan lebih 10 tahun setelah ia temui perahu-perahu itu ... .

Anda ingin perahu padewakang berlayar di Teluk Persia lagi? Hubungi kami!